Lapak kopi online Lampung Barat

Riview Film Dokumenter “Filosofi Kopi, Aroma Gayo”

Riview Film Dokumenter “Filosifopi Kopi, Aroma Gayo”

Film ini bercerita tentang perjalanan Rio Dewanto “Filosofi Kopi” menjelajahi Perkebunan Kopi Gayo di Provinsi Aceh. Konon tempat ini merupakan tempat penghasil kopi terbaik dunia. Tapi itu kata Rio Dewanto ya. Karena menurut saya, penghasil kopi terbaik dunia itu berada di Lampung Barat, di negeri diatas awan. Beda, boleh dong.

Film Dokumenter garapan Rahung Nasution ini menggambarkan betapa rumit nya jalur perdagangan Kopi Gayo yang diceritakan melalui latar dan peristiwa yang berbeda bertemakan petani kopi, pelaku usaha kopi, komunitas kopi , pengelola koperasi, barista, dan pemilik kedai kopi.

Perjalanan Rio di buka dengan mengunjungi sahabat lama nya Selendeng Gembel, Aktivis Kopi Gayo yang paham dan mengerti betul seluk beluk tata kelola Kopi Gayo di Aceh. Dia dapat bercerita secara detail seputar corak produksi, kebudayaan, perniagaan dan hal lain nya terkait Kopi Gayo. Kesimpulan cerita pria berambut gondrong inilah yang menjadi model perjalanan Rio di Tanah Gayo.

Di sesi selanjut nya, Film ini bercerita tentang perbedaan tata kelola hulu hilir Kopi Gayo antara Aman Zakaria dan Kak Ratna yang berdampak pada tingkat kesejahteraan masing-masing individu. Ya, ketimpangan sosial yang menjadi ironi ditengah menggeliat nya bisnis kopi di tingkat lokal dan global.

Ternyata, tinggi nya pasokan Kopi Gayo ke Gerai Starbucks (80%) tak berdampak menyeluruh terhadap meningkat nya perekonomian masyarakat. Sejumlah Petani Kopi masih hidup dengan berhutang. “Terus ini disebut yang nama nya berkeadilan sosial,” ujar Rio.

Selanjut nya guna mengetahui secara detail sejarah pengembangan Kopi Gayo di tanah Aceh, Rio pun berkeliling ke sejumlah tempat, guna bertemu dan berdiskusi dengan berbagai pihak (Lembaga Ekonomi dan individu) yang peduli dan konsisten terhadap pengembangan Kopi di Gayo.

Kisah pertemuan Rio dengan sosok Ikrar, generasi ketiga Aman Kuba Kopi, Pengelola Pasar Kopi sejak jaman Belanda membuat Rio memahami sejarah perdagangan Kopi Gayo sejak era Kolonial. Kemudian Cerita pertemuan Rio dengan Hendra Mau, Malizar dan Sahrut Iman membuat Rio memahami proses pegelolaan hulu – hilir Kopi Gayo di Aceh.

Rio berkesimpulan, kualitas dan citarasa khas kopi gayo merupakan hasil pengelolaan yang baik dan benar disemua fase produksi kopi. Mulai dari pemilihan bibit, keberagaman varietas, masa panen dan paska panen.

Pesan yang terkandung dalam Film ini adalah peningkatan kualitas ekonomi petani Kopi Gayo merupakan buah dari perjuangan Panjang, Kualitas kopi dan kemauan petani dalam berserikat secara ekonomi menjadi kunci nya. Ya, Cerita mengenai akulturasi budaya masyarakat, Kopi Gayo dan kelestarian alam semakin menambah nilai ekonomis Kopi Gayo.

Jadi, Kopi Gayo merupakan harta yang harus dijaga keberlanjutan nya.

Untuk sementara penulis berkesimpulan bahwa Film “Filosofi Kopi, Aroma Gayo” hanya menjadi Film Propaganda Kopi Gayo semata bila tak ada keberlanjutan kisah kopi lain nya di nusantara.

Tanggal Rilis 1 Januari 2020, Sutradara Rahung Nasution, Perusahaan Produksi Visinema Konten Indonesia, Penulis Sonny Laksamana, Pemain Rio Dewanto.

Donna Sorenty Moza

Riview Film Dokumenter “Filosofi Kopi, Aroma Gayo”

Mungkin Anda menyukai

Jalan Baru UMKM Kopi Lampung Barat Dimasa Pandemi Covid 19

Varietas Unggul Baru Kopi: Korolla Klon Kopi Robusta Lampung Barat

Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Kopi Di Kabupaten Lampung Barat

Dinamika Industri Kopi Bubuk di Lampung (1907-2011)

Tinggalkan Komentar

Alamant email Anda tidak akan publikasikan

Belanjaan Anda

Anda belum menambahkan produk ke keranjang belanja

Kembali ke halaman produk