Lapak kopi online Lampung Barat

Klinik Kopi Adopsi Digital untuk Bertahan Saat Pandemi

Adopsi digital seakan menjadi kunci untuk mempertahankan bisnis di era pandemi Covid-19. Salah satu pebisnis yang berhasil mengecap kesuksesan dengan melakukan pelebaran lini penjualan melalui online adalah Klinik Kopi Yogyakarta.

Klinik Kopi didirikan oleh Firmansyah atau yang akrab disapa Pepeng. Usaha ini dibangun sejak tahun 2013, di mana produk yang dijual adalah kopi yang telah diolah secara manual, biji kopi, dan alat seduh kopi. Pepeng sendiri juga menjadi daya tarik para pecinta kopi. Hal ini dikarenakan ia kerap bercerita mengenai asal-usul kopi yang sedang disajikan di gerai kopinya.

“Sejak pandemi, gerai offline menjadi sangat sepi pengunjung bahkan harus tutup,” ujar Pemilik Klinik Kopi Yogyakarta, Pepeng. Keputusan untuk menutup gerai kopi miliknya dirasa tepat, karena 80% pengunjung berasal dari luar kota seperti Jakarta, Surabaya, Manado, dan Semarang. Melihat fenomena tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk memaksimalkan kanal online untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya melalui lini marketplace.

Sejak menutup gerainya karena adanya pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Firmansyah justru mencatatkan kenaikan sebanyak 30% untuk produk biji kopi dan 20% untuk produk alat seduh kopi. Pembatasan tersebut nampaknya bukan menjadi soal, sebab sistem penjualan yang dilakukan Klinik Kopi langsung menyasar end consumer.

“Justru terjadi kenaikan penjualan, karena orang-orang banyak membuat kopi sendiri di rumah dan di kantor. Sehingga mereka membutuhkan biji kopi untuk diseduh,” kata dia menambahkan.

Ada 2 inovasi yang dilakukan Klinik Kopi di tengah pandemi ini, pertama memberikan sample kopi jenis lain seberat 30gr kepada para pembeli. Kedua, melakukan komunikasi langsung dengan para pembeli.

Pepeng biasa menghandle para konsumen dengan banyak bertanya tentang kopi jenis apa yang dibutuhkan, sekaligus memberikan saran kepada mereka produk mana yang cocok untuk dibeli sesuai kebutuhan mereka. Kedua metode tersebut dirasa cukup efektif untuk mengajak konsumen melakukan repeat order. “Cara ini sangat efektif, bahkan ada konsumen yang melakukan repeat order di atas 7 kali.”

Untuk mengahdapi masa adaptasi, Pepeng mengaku akan membuka gerainya dengan sistem reservasi. Setiap hari hanya ada 10 antrian yang dapat menikmati kopi di gerai Klinik Kopi. “Selain menerapkan sistem reservasi, kami juga akan tetap mengaplikasikan protokol kesehatan seperti duduk berjauhan, menggunakan masker, dan disemprotkan disenfektan,” kata dia menutup pembicaraan.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

https://swa.co.id/swa/business-strategy/klinik-kopi-adopsi-digital-untuk-bertahan-saat-pandemi

Mungkin Anda menyukai

Kisah Sukses Petani Kopi Lampung, Raup Omzet hingga Rp 12 Juta per Bulan

Tinggalkan Komentar

Alamant email Anda tidak akan publikasikan

Belanjaan Anda

Anda belum menambahkan produk ke keranjang belanja

Kembali ke halaman produk